SEJARAH BERDIRINYA SEKOLAH DAN ASRAMA SANTO ALOYSIUS TURI
SMP Santo Aloysius Turi
Berangkat dari keprihatinan adanya banyak anak remaja Katolik usia SMP yang tidak melanjutkan sekolah. Kalaupun dapat melanjutkan sekolah, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ± 8 km berjalan kaki ke Sleman atau Pakem karena transportasi yang sulit, atau bagi orang tua yang kaya dapat memasukkannya ke sekolah yang berasrama. Maka berdasarkan keprihatinan dan pemikiran tersebut, para tokoh umat pemerhati pendidikan memikirkan dan mengusahakan berdirinya sebuah SMP di Turi. Setelah berembug bersama dan melalui diskusi yang lama, akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah SMP dengan nama SMPK Santo Aloysius Turi
Dengan kemampuan finansial yang sangat terbatas, pada tanggal 1 Januari 1967 sekolah tersebut mulai dirintis keberadaannnya. Kepala Bidang Dikmenum, atas nama Kepala kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor : 20/A/C.11/1.da SMP/1968 mengakui SMPK Santo Aloysius Turi sebagai sekolah swasta yang syah sejak 1 Januari 1968.
Asrama Santo Aloysius Turi
Asrama Santo Aloysius Turi merupakan tempat pembinaan anak-anak remaja yang pada awal berdirinya sebenarnya hanya dimaksudkan untuk menampung anak-anak usia SMP yang berasal dari dusun di sekitar lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Anak-anak ini bersekolah di SMP Santo Aloysius Turi.
Ketika diputuskan untuk membuka asrama putri, sangat menimbulkan persoalan dengan Bruder Propinsial di Semarang karena dalam sejarah CSA tidak pernah membuka asrama putri. Apalagi yang menjadi pengasuhnya seorang bruder. Tetapi mengingat kondisi dan kebutuhan setempat, Br. Pius Suyoto, CSA selaku kepala sekolah tetap melanjutkan upayanya untuk menyediakan tempat bagi anak-anak putri yang rumahnya jauh dari sekolah, kendati dengan kamar seadanya. Situasi di lapangan kadang menuntut suatu kebijakan yang sungguh berbeda dengan resiko tetap ada pro dan kontra diantara para bruder sendiri. Tetapi dengan keteguhan hati akhirnya asrama putri dibuka pada bulan Agustus 1996. Jumlah penghuni asrama putri saat awal berdirinya sebanyak 23 anak. Mereka tinggal di asrama secara sukarela. Namun sekolah tetap memberi prioritas pada siswi yang rumahnya jauh dari sekolah, siswa yang dalam kondisi kurang sehat, dan siswi yang secara akdemik berprestasi. Mengapa demikian? Para siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ketika ada kegiatan di luar jam sekolah, ketika ada pelajaran tambahan atau ekstrakurikuler pada sore hari misalnya, jika kembali ke rumah bisa sampai malam baru tiba, mengingat pada tahun-tahun itu sarana trasnportasi belum semudah jama sekarang. Para siswi kurang sehat atau dalam keadaan sakit tidak parah supaya bisa tetap bersekolah maka solusinya waktu untuk istirahat harus cukup. Dan itu hanya mungkin kalau anak tersebut tinggal di asrama sehingga punya banyak waktu untuk belajar dan istirahat. Para siswa yang secara akademik berprestasi diharapkan juga tinggal di asrama dengan maksud agar terjadi proses pembelajaran dengan tutor sebaya. Siswi yang pintar bisa mengajari teman lain yang kurang pintar.
Desember 1997 mulai dibuka asrama untuk anak putra dan ada 6 anak yang menjadi penghuni perdana. Karena ada asrama putra dan putri, maka direkrutlah Ibu Margareta Sunarmiyatun untuk menjadi ibu asrama dan sekaligus mengajar di sekolah itu meskipun seluruh tanggung jawab tetap ditangan bruder. Untuk bagian dapur dibantu oleh Mabk Winarsih, meskipun ibu asrama dan anak-anak putri juga dilibatkan dalam memasak karena hal itu juga bagian dari pendidikan. Untuk menopang biaya hidup anak-anak asrama, setiap bulan mereka membawa beras 7,5 kg dan uang lauk pauk Rp 10.000,-. Tetapi jika beras dan uang tidak dimiliki, orang tua dengan sendirinya akan membawa hasil bumi yang lain seperti kelapa, sayur atau salak.
Seiring dengan perkembangan waktu, asrama tersebut kini justru banyak dihuni oleh anak-anak dari luar Turi dan jumlah penghuni asrama putra jauh lebih banyak dari penghuni asrama putri padahal awal mulanya tidak demikian. Mereka ada yang berasal dari Gunung Kidul, Kodya Jogja, Jakarta dan bahkan dari Papua. Di tengah dunia yang menawarkan gaya hidup dan pengaruhnya seperti saat ini, tidak sedikit orang tua yang mencemaskan masa depan anak-anaknya. Mereka sebenarnya mendambakan sebuah pendidikan yanhg bisa untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah yang ada asramanya sebenarnya cukup tinggi. Pada tahun 2019 ini jumlah anak yang tinggal di Asrama Santo Aloysius Turi yaitu 63 anak.
Para bruder sadar bahwa asrama bisa menjadi tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai keutamaan pada diri anak asuh, membangun karakter pribadi dan menjadi agen perubahan di masa depan. Namun memang tidak mudah mendidik para remaja yang sedang mencari jati dirinya. Seringnya pergantian penanggung jawab dan bapak/ibu asrama juga menjadi persoalan tersendiri. Dampaknya adalah terjadinya diskontinuitas, kurang terjadinya kesinambungan dalam menjalankan program asrama.


